Aku sudah tak lagi yakin. Pada rumput bergoyang yang katanya tahu segala, pada rintik hujan yang katanya penyampai pesan. Aku menelepatimu perlahan, lewat bisikan. Kamu harus segara sadar.
Sebut aku kepala batu atau apapun. Sungguh, aku sendiri buta pada rasa yang mengaduk-aduk jiwa. Mungkin terdengar aneh bagimu, mungkin terdengar semu. Aku menunggumu, membaca tanda-tandaku. Karena kumpulan aksara bak teka-teki itu, hanya kamu yang bisa memecahkannya.